BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Selasa, 08 September 2009

Blog Baru...

Mau baca blog-blog baru...?

Blog kelas XII IPS 1 Tahun 2009-2010


Blog kelas XII IPS 2 Tahun 2009-2010


Blog kelas XII Bahasa Tahun 2009-2010

Sabtu, 08 Agustus 2009

Aku Meminta

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan penderitaanku.
Tuhan menjawab: Tidak, itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyempurnakan kecacatanku.
Tuhan menjawab: Tidak, jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadiahkan kesabaran.
Tuhan menjawab: Tidak, kesabaran adalah hasil dari kesulitan, itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.

Aku meminta kepada Tuhan untuk memberiku kebahagiaan.
Tuhan menjawab: Tidak, aku memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu sendiri.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan penderitaan.
Tuhan menjawab: Tidak, penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat pada-Ku.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menumbuhkan rohku.
Tuhan menjawab: Tidak, kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah.

Aku meminta kepada Tuhan segala hal agar aku dapat menikmati hidup.
Tuhan menjawab: Tidak, aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat segala hal.

Aku meminta kepada Tuhan membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.
Tuhan menjawab: Ahhh....akhirnya kau mengerti.

HARI INI ADALAH MILIKMU, JANGAN DISIA-SIAKAN.
Bagi dunia kamu mungkin hanyalah seseoranh. Tetapu bagi seseorang, kamu adalah dunianya.
GBU all!

Rabu, 15 Juli 2009

Junk Food dan Soft Drink Bikin Jerawatan?

Rabu, 15 Juli 2009 | 11:09 WIB
KOMPAS.com — Repotnya jika anak masih di usia TK atau SD, mereka gemar sekali mengonsumsi junk food. Akibatnya, ayah-ibunya pun harus ikut menikmati junk food saat mengantar mereka makan. Padahal kita tahu, pada usia seperti kita, junk food sebaiknya sudah mulai dihindari. Anda juga mengkhawatirkan efek kecil-kecilan akibat konsumsi junk food, seperti jerawat.

selanjutnya....

Selasa, 16 Juni 2009

Kelulusan Siwa Mencapai 96,6 persen

Upaya sekolah yang mendidik siswanya dengan telaten dalam menghadapi ujian nasional 2009 membuahkan hasil. Ini terlihat dari angka kelulusan yang menunjukan peningkatan. Misalnya dari 57.509 siswa SMA yang mengikuti UN, kelulusan mencapai 96,6 persen. Sedangkan untuk SMK, tingkat kelulusan mencapai 96,6 persen. Sebelum ujian, seluruh sekolah meningkatkan try out dari enam kali menjadi sembilan kali.
Data Dinas Pendidikan DKI Jakarta menyebutkan, angka kelulusan meningkat dibanding tahun lalu. Untuk SMA dari jumlah peserta 57.509 siswa, ternyata yang lulus mencapai 55.530 siswa (96,6 persen), sedangkan yang tidak lulus hanya 1.979 siswa (3,4 persen). Padahal tahun lalu angka kelulusan siswa SMA hanya 92 persen.
Demikian halnya SMK, dari 57.914 siswa ternyata yang lulus mencapai 5.915 (96,6 persen) dan tidak lulus 1.999 siswa (3,4 persen). Tahun 2008 lalu, angka kelulusan SMK hanya mencapai 93 persen. "Meningkatnya angka kelulusan siswa SMA/SMK ini disebabkan banyak faktor. Misalnya meningkatnya efektifitas kegiatan belajar mengajar," ujar Kamaluddin, Ketua Panitia pelaksana ujian nasional SMA/SMK DKI Jakarta, Sabtu (14/6). Ia menegaskan, sebelum ujian sekolah menambah progam try out dari enam kali menjadi sembilan kali.
Kemudian, pihak sekolah sangat intens melakukan pendalaman materi. "Yang tak kalah pentingnya adalah, siswa setiap hari diajak untuk doa bersama sebelum mengikuti KBM. Bahkan sekolah rutin menggelar dzikir akbar bersama murid-muridnya," imbuhnya. Gelar doa bersama ini memberi motivasi besar peserta ujian agar bisa mengerjakan soal dengan mudah.
Bagi siswa yang tidak lulus pada UN tahun 2009, masih diberi kesempatan untuk mengulang pada tahun ajaran baru tahun 2010/2011 mendatang. Namun bagi mereka yang tidak ingin mengulang maka dapat mengikuti program paket C yang akan dilaksanakan mulai 23 Juni mendatang. Pengumuman hasil kelulusan UN SMA//SMK secara nasional sebenarnya telah dilakukan pada Sabtu (13/6) kemarin. Pihak sekolah langsung mengumumkan hasil UN ini melalui papan pengumuman di sekolah, pengiriman via kantor pos dan dipublikasikan melalui website masing-masing sekolah.

115 Siswa Jurusan IPA dapat Nilai Sempurna
Menurut Kamaluddin, ada kecenderungan bahwa hasil UN menunjukkan, nilai rata-rata yang diperoleh siswa SMA melebihi standar kelulusan yang ditetapkan sebesar 5,5 (dari 6 mata pelajaran uang diuji). Untuk jurusan IPA, dengan materi pelajaran yang diuji terdiri dari bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi, perolehan nilai rata-rata 7,19.
Kemudian jurusan IPS (Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika, ekonomi, sosiologi dan geografi), diperoleh nilai rata-rata 7,05. Sedangkan jurusan Bahasa, mata pelajaran yang diuji bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, matematika, sastra, antropologi, dan bahasa asing, rata-rata nilai yang diperoleh adalah 6,51.
Dinas Pendidikan DKI mencatat, sedikitnya ada 115 siswa jurusan IPA yang mendapat nilai 10 untuk pelajaran kimia, 58 siswa untuk pelajaran matematika, dan 22 siswa untuk pelajaran fisika. Kemudian di program IPS, siswa yang mendapat nilai 10 adalah sebanyak 55 siswa untuk pelajaran matematika, 10 siswa untuk pelajaran geografi dan 3 siswa untuk pelajaran sosiologi serta dua siswa untuk pelajaran bahasa Inggris.

Berdasarkan perolehan peringkat/ranking, maka SMA Santa Ursula menduduki peringkat pertama. Pasalnya, siswa di tiga jurusannya, yakni IPS, IPA dan Bahasa, mendapat nilai tertinggi dibanding seluruh SMA lain di Jakarta. Lihat saja, untuk jurusan IPS, siswa di sana mendapat nilai dengan total 51,09. Sedang siswa jurusan IPA meraih total nilai 51,61, dan siswa jurusan Bahasa meraih total nilai 47,65.

Menyusul kemudian SMA Kristen I BPK Penabur, untuk program IPA deng
an total nilai 51,51. Jurusan IPS SMA ini juga menduduki peringkat kedua dengan nilai 50,31. Sedang peringkat kedua untuk jurusan Bahasa diraih SMA Labschool Kebayoran yang mencapai nilai 44,36.

Senin, 06 April 2009

Marah-marah dan Kanker

Marah-marah dan Kanker

Ternyata marah-marah dan kesal itu tidak bagus buat kesehatan. Universitas Stanford pernah melakukan suatu percobaan, selang pernapasan dimasukkan ke dalam hidung anda lalu anda diminta untuk bernapas seperti biasa, lalu selang itu ditancapkan ke salju.

Jika salju tidak berubah warnanya, itu berarti emosi anda sedang stabil, jika salju semakin memutih, itu berarti anda sedang merasa bersalah, jika salju berubah menjadi ungu, itu berarti anda sedang marah. Salju yang berubah menjadi ungu itu, jika disuntikkan ke dalam tubuh seekor tikus putih, dalam waktu 1-2 menit, tikus itu akan mati.

Komposisi salju yang berubah ungu itu pun sudah diteliti. Oleh karena itu marah akan membuat seseorang mudah terjangkit kanker, ini adalah masalah yang serius.

Baca selanjutnya...

Sabtu, 14 Maret 2009

Pertunangan Anak 4 tahun dengan 6 tahun

BUCHAREST.KOMPAS.com-Komunitas gipsi di Rumania memiliki tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun. Menjodohkan dan merencanakan pernikahan bocah-bocah kecil nan belia. Meskipun tradisi ini dinilai ilegal, namun di Rumania masih banyak berlangsung.

Salah satunya pertunangan antara Maria (4) dan Victor (6), yang tinggal di kelompok gipsi Caldarari. Kakek Victor dan pamannya menyusun pertunangan mereka di wilayah Sibiu, Transylvania, Rumania.

Uniknya, setiap warga gipsi yang tinggal di Caldarari selalu memiliki nama keluarga Caldararu. Sehingga pertunangan yang dilakukan ini untuk memastikan agar keduanya tetap tinggal di komunitas tersebut hingga dewasa nantinya.

Dalam tradisi ini, kedua keluarga saling memberikan sejumlah uang, sebagai salah satu persetujuan pertunangan tersebut. “Perjodohan dan perayaan ini hampir mirip pesta pernikahan. Bedanya, kami tidak memiliki pendeta yang memberkati kedua mempelai,” tutur Traian Caldararu (47), paman Victor. Menurut Victor, keluarganya mengeluarkan 10.000 Lei atau sekitar Rp 38,9 juta untuk pesta tersebut. Seluruh warga gipsi Caldarari akan hadir di sini. “Pernikahan mereka akan disahkan undang-undang saat Maria berusia 16 tahun,” imbuh Traian.

Sekali dijodohkan, akan sulit bagi anak-anak tersebut untuk menolaknya dan mencari calon jodoh yang lain. Bagi yang memutuskan tali perjodohan itu harus membayar denda yang jumlahnya tiga kali lipat dari mas kawin plus inflasi dan bunga bank yang berlaku saat itu. “Untungnya hal ini jarang terjadi,” kata Traian.

Seperti keluarga Victor yang membayarkan 50.000 Lei atau sekitar Rp 194 juta sebagai mas kawinnya. Nah, jika Victor berubah pikiran, ia bisa membuat bangkrut ayahnya yang juga bernama Victor. Sementara bagi mempelai wanita bisa mencemarkan nama baiknya. Ia akan sulit mencari suami baru dan berisiko diusir dari komunitas tersebut.

Victor dan Maria tumbuh dan bermain bersama dalam komunitas tersebut. Namun mereka masih terlalu kecil tentang komitmen yang harus mereka jalani.

“Anak-anak bahkan tidak tahu apa arti tradisi perjodohan ini. Mereka mengira ini Cuma pesta biasa. Jika sudah dewasa mereka akan diberitahu dan akan menikah di usia 16 dan 18 tahun,” kata Traian. Bahkan, yang lebih ekstrim lagi, pernikahan telah direncakan jauh-jauh hari sebelum si anak dilahirkan.

Rumania memiliki populasi kaum gipsi terbesar di dunia. Dua juta penduduk gipsi, 5 hingga 10 persennya tinggal di sana. Meski Rumania sedah bergabung dengan Uni Eropa tahun 2007, namun kaum gipsi seolah lepas dari regulasi Uni Eropa. Mereka bekerja dan hidup dalam ritual dan tradisi yang miliki. tel/tis

Kamis, 05 Maret 2009

Buku Harian

Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.


Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit.

Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal - hal kecil dalam rumah tangga. Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ayah mendengarkan segala keluhan saya dan setelah itu, beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya. Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku-buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.

Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas. Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca Dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu.
Semuanya merupaka catatan hal-hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya."
"Anak - anak terlalu berisik, untung ada dia."
Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak-anak dan terhadap keluarga ini. Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."
Ayah menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."
Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan.
Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara-gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah waktu menulis, kertasnya sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu."
Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"
Ayah hanya tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala di malam hari,menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha."
Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba-tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan :
"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan dari orang lain. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain."